Kepemimpinan Yesus : Servant Leadership
Kepemimpinan yg ditunjukkan Yesus adalah sesuatu paradigma yg berbeda. Sebagian orang (mungkin kebanyakan org) ingin menjadi pemimpin suatu kelompok karena dengan begitu mereka akan memiliki/mendapatkan kekuasaan, kekuatan, hormat, dan sumber daya lainnya. Untuk itu sebagian org berusaha unjuk kekuatan, ketangkasan, yg disertai rasa sombong (sadar atau tidak) utk menunjukkan bahwa dia layak memimpin.
Tetapi paradigma kepemimpinan Yesus berbeda. Ketika para murid berselisih paham mengenai siapa yg pantas duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus dalam kerajaanNya (baca : mendapatkan tempat terhormat dan posisi), Yesus berkata barangsiapa ingin menjadi yg terbesar/pemimpin dalam suatu kelompok, dia harus bersedia utk menjadi "slave" kelompok tersebut. Slave dalam bahasa Indonesia adalah budak. Pada masa itu seorang budak harus melakukan apapun perintah majikannya, tdk boleh membantah, mementingkan kepentingan majikan diatas kepentingan dirinya sendiri karna hidupnya adalah milik majikannya.
Jika Yesus memakai kata budak, berarti seseorang yg ingin menjadi yg terbesar/pemimpin, harus bersedia utk melayani kepentingan kelompok tsb layaknya seorang budak kepada majikan. Tentu saja dalam paradigma ini, majikan seorang pemimpin adalah kelompok yg dipimpinnya.
Untuk itu, seorang yg ingin menjadi pemimpin harus mau berkorban lebih banyak, melayani lebih banyak, bekerja lebih banyak daripada orang2 yg dipimpinnya. Itulah syarat utk menjadi seorang pemimpin dalam paradigma kepemimpinan Yesus.
Dan sy pikir, paradigma seperti itu sgt relevan pada masa kini dan seterusnya. Setiap kita merindukan sosok pemimpin yg melayani layaknya seorang budak terhadap majikannya.
Komentar
Posting Komentar