Siapa Yg Mengatur Semesta Saat Tuhan mati disalib?
Pertanyaan dalam judul diatas muncul dengan asumsi awal (sadar atau tidak) : Semua yg ada dalam alam semesta dibatasi oleh ruang dan waktu.
Dunia ini dan segala isinya memang dibatasi oleh ruang dan waktu. contohnya kita tidak bisa seenaknya pergi ke masa 10 tahun yg lalu atau 10 tahun yg akan datang dari masa ini krn simply kita dibatasi oleh waktu.
Kita juga dibatasi oleh ruang sehingga kita tidak mungkin berada dimanapun dalam waktu yg bersamaan.
Namun jika ada Tuhan yg maha kuasa dan pencipta segalanya, tentu dia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu karna ruang dam waktu itu sendiri pun adalah ciptaannya. Itu hal mendasar yg perlu kita ingat dulu.
Lalu apa relevansinya dgn pertanyaan di awal?
Tentu sgt relevan krn pertanyaan diatas muncul krn kita berpikir (sadar atau tidak) dalam dimensi ruang dan waktu. Pikiran logis kita berkata ada ruang dan waktu yg hrs dihadapi. Namun lupa bahwa Tuhan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Dia bisa berada dimanapun dan kapanpun.
Analogi terbaik yg bisa sy sampaikan utk menjelaskan ruang dan waktu dan kaitannya dgn pertanyaan di awal adalah begini :
Misalkan anda menulis sebuah paragraf cerita tentang pria bernama Tono. Anda menuliskannya begini :
"Hari ini Tono berkenalan dgn teman barunya di sekolah dasar bernama Tini. Namun hanya 1 tahun berselang Tono pindah sekolah. Siapa sangka 10 tahun kemudian mereka bertemu lagi."
Tono dan Tini dibatasi oleh ruang dan waktu dalam cerita itu. Tapi anda sebagai penulis cerita itu tidak. Maksud sy anda tidak perlu menunggu 10 tahun utk menulis "Siapa sangka 10 tahun kemudian mereka bertemu lagi." Anda bisa menulis paragraf diatas kurang dari satu menit. Atau sesuka anda. Anda bisa menulis kalimat pertama saat ini lalu berhenti dan kemudian lanjut menulis kalimat berikutnya diwaktu waktu yg anda inginkan.
Menurut sy, kemampuan manusia utk menuliskan sebuah kisah cerita/film adalah anugrah sekaligus clue/petunjuk dari Tuhan dalam menerangkan kuasaNya atas ruang dan waktu. Agar manusia bisa memahami bahwa si penulis cerita tidak dibatasi dengan kisah yg ditulisnya.
Sama seperti panggilan Allah Bapa untukNya dalam menerangkan kasih Tuhan selayaknya kasih seorang bapak terhadap anaknya.
Komentar
Posting Komentar